Home / Buletin Militer / Warga Tumpah Ruah Ke Jalan Rayakan Acara Belimbur, Tanda Di Tutupnya Erau Adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura

Warga Tumpah Ruah Ke Jalan Rayakan Acara Belimbur, Tanda Di Tutupnya Erau Adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura

KOREM091-TNIAD.MIL.ID.TENGGARONG. – Begitu besarnya antusias warga masyarakat Tenggarong padati Musium Mulawarman di jalan Diponegoro, Kel. Panji, Kec. Tenggarong, Kab. Kukar untuk mengikuti acara Penutupan Erau Adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menjadi ajang yang di tunggu – tunggu semenjak di bukanya acara tersebut, Minggu (15/9/2019).

Acara penutupan ini merupakan puncak dari seluruh rangkaian kegiatan Erau adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura di karenakan pada penutupan ini ada satu upacara adat yang di nanti oleh warga yaitu upacara adat Belimbur.

Dalam penutupan acara adat erau tersebut di hadiri oleh Wakil Gubernur Kalimantan Timur Hadi Mulyadi, M,Si., S.Si, Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Timur Drs.Makmur HAPK, Kolonel Inf M. Ilyas, Dandim 0905/Bpp mewakili Pangdam VI / Mlw, Letkol Inf Windardo S.Sos., MM Kasi Pers Korem 091/ASN, mewakili Danrem 091/ASN, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Drs Adji Muhammad Arifin, Wali kota Samarinda Syaharie Jaang, Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah, M.Si, Kapolres Kukar AKBP.Anwar Haidar SIK.M.Si, Kasdim 0906/ Tgr Mayor.Inf Muhammad Edi, S.IP, Para Raja-raja Nusantara, Para Tokoh masyarakat, Tokoh agama,Tokoh adat, Tokoh pemuda dan para undangan.

Dalam sambutannya Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah menyampaikan Pesta erau adat Kutai Kartanegara Ing martadipura di laksanan selama 7 hari Dimana 2 buah replika naga telah bersemayam di istana kesultanan Kutai Kartanegara ing martadipura untuk kemudian akan dilarungkan di Kutai lama tempat di mana asalnya, upacara adat erau sangat melekat di hati masyarakat tidak hanya Kabupaten Kutai Kalimantan timur bahkan secara nasional, acara ini merupakan kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh semua orang akan membiarkan dirinya basah menerima siraman air dan orang yang disiram tidak boleh marah, proses belimbur tidak boleh keliru atau melampaui batas jangan sampai prosesi belimbur mengurangi makna penyucian diri.

Belimbur tidak hanya menjadi ritual terakhir tetapi juga menjadi puncak rangkaian dalam ritual ini masyarakat larut dalam suka cita dan keceriaan sambil berbasah-basahan, belimbur merupakan tradisi saling menyiramkan air kepada sesama anggota masyarakat yang merupakan bagian dari ritual penutup Erau Adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas kelancaran pelaksanaan Erau.

Selain itu belimbur memiliki maksud filosofis sebagai sarana pembersihan diri dari sifat buruk dan unsur kejahatan Air yang menjadi sumber kehidupan dipercaya sebagai media untuk melunturkan sifat buruk manusia.

Sumber Dim 0906 Tgr